Sabtu, 02 April 2016

Seksualitas dan Aseksualitas

MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR
(Seksualitas dan Aseksualitas)
          


NAMA                 : ARLINDA PUTRI SUNARTA
KELAS                : 1PA03
NPM                    : 11515033

FAKULTAS         : PSIKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Penulis membuat makalah ini agar pembaca dapat mengetahi bahwa perbedaan seksual dan aseksual.Penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar.Makalah kali ini akan membahas tentang pengertian,factor dan contoh seksual dan aseksual.
Seksual adalah pelilaku seks yang kawin dan Aseksual adalah perilaku yang tidak kawin.Adapun tahap-tahap perkembangan seksual yaitu biologis,psikologis,dan social budaya.Penulis akan menjelaskan secara detail tentang perkembangan seksual dan aseksual.
1.2     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Perkembanga Seksual?
2.      Apa pengertian Perkembangan Aseksual?
3.      Apa contoh Perkermbangan Seksual?
4.      Apa contoh Perkembangan Aseksual?
1.3     Tujuan Penulisan
1.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui pengertian dari perkembangan seksual dan perkembangan aseksual.
2.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui contoh perilaku perkembangan seksual dan aseksual.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Seksualitas

·         Merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut.
·         Seksualitas meliputi bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunuksikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan seperti: sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus  seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.
·         Raharjo (1999) menjelaskan bahwa seksualitas merupakan suatu konsep, kontruksi sosial terhadap nilai, orientasi, dan perilaku yang berkaitan dengan seks.
·         kesehatan seksual  menurut WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.
Tinjauan seksual dari beberapa aspek
1.      Aspek biologis
Pandangan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi, kemampuan organ seks dan adanya hormonal serta sistem syaraf yang berfungsi atau berhubungan dgn kebutuhan seksual.
2.      Aspek psikologis
Pandangan terhadap identitas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya serta memandang gambaran seksual.
3.      Aspek sosial budaya
Merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di masyarakat.
Tahapan Perkembangan Seksualitas
Ø  MASA PRANATAL DAN BAYI
Komponen fisik/biologis : sudah berkembang, Mampu merespon rangsang, misal : ereksi, pelumas vagina (saat mandi merasakan adanya perasaan senang) Terfokus pada pembelajaran normal dan membentuk rasa diri
Komponen psikososial :
a.       Bayi fokus kebutuhan rasa aman, nyaman, kesenangan, nutrisi.
b.      Berkembang rasa percaya.
c.       Respon terhadap interaksi figur orang tua.
d.      Mulai belajar jenis kelamin.
Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud) :
1.      Tahap oral (0-1 tahun)
·         Kepuasan dicapai dengan menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara.
·         Misal : menetek, menghisap jari
·         Masalah : menyapih dan makan
2.      Tahap anal  (1-3 tahun)
·         Kepuasan terjadi saat pengeluaran feses
·         kadang-kadang mencoba memasukan kembali atau menahan feses, sering menjadikan feses sebagai mainan.Dapat dilatih kebersihan.
Ø  MASA KANAK-KANAK
·         Dibagi dalam masa todler, prasekolah dan sekolah.
·         Biologis: struktur anatomi dan fisiologi terus berkembang.
·         Psikososial : mulai mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.
·         Belajar perasaan diri melalui interaksi dengan figur orang tua.
1.      Tahap oedipal/phalik (3-5 tahun)
·         Kepuasan anak terletak pada rangsang otoerotis : meraba, nikmat pada beberapa daerah.
·         Mengidentifikasi jenis kelamin.
·         berperan sesuai jenis kelamin.
·         Menyukai lain jenis (laki-laki dekat dengan ibu, perempuan dekat dengan ayah)Pada anak laki-laki dekat dengan ibu, bangga terhadap penisnya.Pada anak perempuan dekat dengan ayah karena ayah suka mengagumi kecantikannya dan senang bermain dengannya.
2.      Tahap laten (5-12 tahun)
·         Suka berinteraksi dgn kelompok/sebaya.
·         Dorongan libido mereda.
·         Banyak bertanya masalah seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca atau berfantasi.
·         Mulai memasuki masa pubertas.
Ø  MASA PUBERTAS
·         Biologis: terjadi kematangan fisik (pubertas) dan kematangan psikososial (remaja)
·         Perubahan fisik :
Laki-laki : TB, BB, perkembangan otot, bulu, ukuran penis.
Perempuan : TB, BB, bentuk tubuh, ukuran payudara, menstruasi.
·         Psikososial : perubahan body image, perhatian besar pada perubahan fungsi tubuh, belajar perilaku pada kondisi sosial baru, konflik emosi (mudah tersinggung, malu, ingin dimengerti)
ü  Tahap genital  ( > 12 tahun)
Berespon terhadap sensasi menyenangkan / permainan erotis (fantasi, masturbasi)
Ø  MASA DEWASA MUDA DAN PERTENGAHAN UMUR
·         Biologis (18-30 tahun)
kematangan anatomi dan fisiologi, BB, TB dan kondisi tubuh.
Perkembangan ciri seks sekunder mencapai puncak
Pertengahan umur : terjadi perubahan hormon.
Wanita: penurunan estrogen, pengecilan payudara, cairan vagina berkurang.
Pria : menurunnya reaksi ereksi, penurunan ukuran penis, penurunan produksi semen.
·         Psikososial: Intim dnegan lawan jenis, menikah, melahirkan, punya anak menyebabkan terjadinya perubahan peran Interaksi seksual : kominikasi terbuka tentang seks dengan partner, pengetahuan yg baik tentang diri dan kemampuannya serta tentang partnernya.
Ø  MASA DEWASA TUA
·         Biologis :
Perempuan : atropi vagina, jaringan payudara, cairan vagina menurun,
intensitas orgasme menurun.
Laki-laki : menurunnya produksi sperma, intensitas orgasme menurun, terlambat mencapai ereksi, pembesaran kelenjar prostat.
·         Psikososial :
Masalah yg mempengaruhi perkembangan seksualitas:
a.       penyesuaian terhadap perubahan body image.
b.      penyesuaian terhadap perubahan dlm keluarga, status perkawinan, pensiun, perubahan fungsi tubuh, menurunnya mobilitas.Bila pada masa dewasa tua dan lansia seseorang tidak mampu berespon positif terhadap perubahan maka orang tersebut dapat merasakan penurunan harga diri (HDR) dan kemudian menyebabkan isolasi sosial.
Reprosuksi Seksual
·         Mula-mula Hifa berbeda jenis saling berdekatan.
·         Hifa betina akan membentuk Askogonium dan hifa jantan akan membentuk Anteridium, masing-masing berinti haploid.
·         Dari askogonium akan tumbuh Trikogin yaitu saluran yang menghubungkan askogonium dan anteridium.
·         Melalui trikogin anteridium pindah dan masuk ke askogonium sehingga terjadi plasmogami.
·         Askogonium tumbuh membentuk sejumlah hifa askogonium yang dikarion. Pertumbuhan terjadi karena pembelahan mitosis antara inti-inti tetapi tetap berpasangan.
·         Pada ascomycota yang memiliki badan buah, kumpulan hifa askogonium yang dikariotik ini membentuk jalinan kompak yang disebut Askokarp. Ujung-ujung hifa pada askokarp membentuk askus dengan inti haploid dikariotik.
·         Di dalam askus terjadi kariogami menghasilkan inti diploid.
Di dalam askus terdapat 8 buah spora. Spora terbentuk di dalam askus sehingga disebut sporaaskus. Spora askus dapat tersebar oleh angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai, spora askus akan tumbuh menjadi benang hifa yang baru.
Catatan: Di dalam askus terdapat 8 buah spora karena 2 inti diploid melakukan pembelahan meiosis menghasilkan 4 inti haploid. Setiap haploidakan membelah secara mitosis sehingga setiap askus terdiri dari 8 buah spora.
Contoh Perkembangan Seksual Pada Fauna
1.      Aves
Fertilisasi internal dengan kloaka. Semua jenis burung bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar). Ada burung yang mengerami telurnya, ada yang menyimpannya dalam lubang-lubang yang ditutupi daun, ada pula yang menyimpan telurnya didalam pasir. Seekor burung sekali musim hanya mampu bertelur beberapa butir saja. Pada burung merpati, sekali musim bertelur mengeluarkan 2 butir telur yang akan menetas menghasilkan burung jantan dan betina. Embrio yang berkembang dalam cangkang mendapat makanan dari cadangan makanan yang tersimpan dalam telur tersebut.
2.      Amfibi
Seperti pada ikan, katak juga bertelur dengan fertilisasi eksternal. Telur yang telah dibuahi akan bergerombol dipermukaan air. Setelah enam hari telur akan menetas menghasilkan berudu atau kecebong. Berudu hidup di dalam air dan bernafas dengan insang. Setelah mengalami metamorfosis selama 1- 3 bulan, ia akan berubah bentuk menjadi katak. Pada umur satu tahun katak telah menjadi dewasa.

B. Aseksualitas

Perkembangbiakan Aseksual

     Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Perkembangbiakan secara aseksual pada hewan invertebrata terjadi dengan cara:
1.      Membelah diri (pembelahan biner), yaitu pembelahan diri dari satu sel menjadi dua sel baru. Misalnya, terjadi pada Protozoa.
2.      Fragmentasi, yaitu pemisahan sebagian sel dari suatu koloni dan selanjutnya membentuk koloni sel baru. Misalnya, terjadi pada Volvox.
3.      Sporulasi atau pembentukan spora, misalnya Plasmodium (penyebab malaria) pada fase oosit. Oosit akan membelah dan selanjutnya akan menghasilkan sporozoit.
4.      Pembentuhan tunas, misalnya pada hewan Hydra dan Porifera.
5.      Dengan regenerasi, yaitu sebagian tubuh terpisah dan selanjutnya bagian tadi dapat tumbuh menjadi individu baru yang lengkap. Misalnya pada Planaria dan Bintang Laut.
Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.
Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme yang lebih sederhana, biasanya satu sel, melakukan reproduksi secara aseksual.
Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual adalah proses reproduksi dimana keturunan timbul dari orangtua tunggal, dan mewarisi gen dari satu orang tua. Aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan meiosis, ploidi pengurangan, atau fertilisasi. Sebuah definisi yang lebih ketat adalah agamogenesis yang adalah reproduksi tanpa fusi gamet. Reproduksi aseksual adalah bentuk reproduksi organisme bersel tunggal seperti archaea, bakteri, dan protista. Banyak tanaman dan jamur bereproduksi secara aseksual juga.
Sementara semua prokariota bereproduksi secara aseksual (tanpa pembentukan dan fusi gamet), mekanisme transfer gen lateral yang seperti konjugasi, transformasi, dan transduksi kadang-kadang disamakan dengan reproduksi seksual. Kurang lengkapnya reproduksi seksual relatif jarang terjadi di antara organisme multiseluler, terutama hewan.
Hal ini tidak sepenuhnya mengerti mengapa kemampuan untuk bereproduksi secara seksual begitu umum di antara mereka. Hipotesis saat ini menunjukkan bahwa reproduksi aseksual mungkin memiliki manfaat jangka pendek ketika pertumbuhan penduduk yang cepat adalah penting atau dalam lingkungan yang stabil, sedangkan reproduksi seksual menawarkan keuntungan bersih dengan generasi yang lebih cepat memungkinkan keragaman genetik, memungkinkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Kendala perkembangan mungkin mendasari mengapa beberapa hewan telah melepaskan reproduksi seksual sepenuhnya dalam siklus hidup mereka.
Reproduksi aseksual misalnya Membelah diri, Tunas (Reproduksi), Reproduksi vegetatif, Fragmentasi, Sporogenesis, Partenogenesis, dan Apomiksis.
contoh reproduksi pada tanaman Sarcoscypha coccinea
Sarcoscypha coccinea,Dilakukan dengan membentuk kuncup. Kuncup terbentuk pada sel induk yang kemudian lepas. kadang-kadang kuncup tetap melekat pada induk selnya membentuk rantai sel yang disebut hifasemu atau pseudohifa.
Hasil Analisis
          Seksualitas merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut.Adapula tinjauan seksualitas dalam beberapa aspek yaitu: Aspek biologis,Aspek psikologis dan Aspek social budaya.Tahapan perkembangan seksualitas yaitu:
a.       Masa Pranatal : Tahap oral dan Tahap anal
b.      Masa Kanak-Kanak : Tahap phallic dan Tahap laten
c.       Masa Pubertas : Tahap genital
d.      Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur
e.       Masa Dewasa Tua
Contoh reproduksi pada seksual adalah aves dan amphibi.
     Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu.Adapula contoh perkembangan aseksual yaitu hewan invertebrata,yaitu dengan cara : Membelah diri,Fragmentasi,Sporulasi (pembentukan spora),Pembentukan tunas dan Regenerasi.
REFERENSI

matematika dan IAD tentang penyebaran mahkluk hidup

MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR
(geografi dalam kehidupan manusia)
          


NAMA                 : ARLINDA PUTRI SUNARTA
KELAS                : 1PA03
NPM                    : 11515033

FAKULTAS         : PSIKOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Penulis membuat makalah ini agar pembaca dapat mengetahi bahwa penyebaran makhluk hidup dimuka bumi.Makhluk hidup di bagi menjadi beberapa wilayah,yang akan dibahas dalam makalh ini adalah pembagian wilayah berdasarkan iklim dan pembagian wilayah berdasarkan fauna.
Dasar bidang ini adalah ilmu geografi,penulis akan mengulas sedikit tentang factor-faktor penyebaran makhluk hidup dimuka bumi.Faktor yang mempengaruhi adalah factor biotik dan factor abiotik.Adapula penyebaran wilayah berdasarkan iklim.
1.2   Rumusan Masalah
1.      Apa saja yang mempengaruhi penyebaran makhluk hidup?
2.      Bagaimana penyebaran wilayah berdasarkan iklim?
3.      Bagaimana penyebaran wilayah berdasarkan fauna?
1.3   Tujuan Penulisan
1.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi penyebaran makhluk hidup.
2.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui bagaimana penyebaran wilayah berdasarkan iklim dan fauna yang ada dimuka bumi.
BAB II
PEMBAHASAN
GEOGRAFI KEHIDUPAN PENYEBARAN MAKHLUK HIDUP
Mempelajari hubungan permukaan bumi dengan berbagai makhluk hidup yang tinggal di permukaannya. Bidang ilmu yang mempelajari dan berusaha untuk menjelaskan distribusi organisme di permukaan bumi.
Seperti yang kita ketahui bahwa pembentukkan bioma sangat dipengaruhi oleh factor Biotik dan Abiotik. Faktor Biotik dan Abiotik memiliki keterkaitan yang sangat erat untuk mendukung kehidupan suatu ekosistem dapat berjalan dengan baik. Jika salah satu faktor diubah atau mengalami gangguan, maka hal itu akan berdampak pada ketersediaan sumber daya lainnya dalam suatu sistem.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyebarannya :
1.                  Biotik
Merupakan, faktor hidup, atau terkait dengan kehidupan. Yang termasuk biotik yaitu manusia, hewan (fauna), tanaman (flora), jamur, protista dan bakteri.
2.                  Abiotik
Merupakan, komponen-komponen yang tidak hidup atau benda mati. Yang termasuk komponen abiotik adalah, tanah, batu dan iklim, hujan, suhu, kelembaban, angin, serta matahari. Abiotik tidak memiliki ciri sebagaimana faktor biotik, seperti bernapas, tumbuh, berkembang biak, makan dan minum, berekresi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor abiotik adalah faktor pendorong untuk biotik sehingga biotik dapat hidup dan melakukan aktivitas.
Contoh distribusi geografi Flora
Tropik (23 0 LU dan 23 0 LS sepanjang katulistiwa)
Pohon besar, ditempeli tumbuhan lain (Epifit), banyak pohon merambat (Rotan) dan dibawah pohon besar masih tumbuh pohon kecil dan di bawahnya lagi ada semak.
Sub tropik (23 0 LU dan 40 0 LS)
Hutan lebat tanpa belukar, rotan dan epifit, dan makin ke arah kutub tumbuh padang rumput (40-60 0 LU / LS)
Daerah dingin (60-80 0 LU / LS)
Tundra (padang perdu dan paku yang pendek/rendah) danTaiga (hutan cemara/pinus/pakis)
Pembagian Wilayah Berdasarkan Iklim
Geografi kehidupan atau biografi adalah pembagian wilayah berdasarkan kondisi geografi yang berkaitan dengan kehidupan yang terdapat di dalamnya. Atau dengan kata lain, pembagian wilayah di bumi yang berkaitan dengan kehidupan tumbuhan dan hewan. Iklim, tumbuhan (vegetasi), dan hewan merupakan ekosistem skala besar yang disebut habitat atau bioma. Kondisi suatu bioma dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. Misalnya daerah pantai, faktor abiotiknya adalah pasir, lumpur, dan lain-lain, sedangkan faktor biotiknya adalah ikan, buaya, dan lain-lain. 
Berdasarkan iklimnya, suatu daerah/wilayah di bumi ini dibedakan menjadi tiga, yaitu : 
1.      Daerah Tropis.
Daerah tropis terletak di sepanjuang khatulistiwa antara 23,5 derajat Lintang Utara (LU) dan 23,5 derajat Lintang Selatan (LS), beriklim panas. Ciri-ciri daerah tropis, antara lain adalah :
·         Matahari bersinar sepanjang tahun.
·         Perubahan suhu sangat kecil (amplitudonya kecil).
·         Curah hujan tinggi, merata sepanjang tahun antara 200 - 225 cm per tahun.
·         Pohon-pohonnya besar dan tinggi, bisa mencapai 20 - 40 meter dan membentuk kanopi.
·         Tanah di bawahnya hampir tidak terkena sinar matahari, yang menyebabkan tanaman merambat atau menjalar ke atas.
·         Tanaman perdu masih bisa hidup dalam kanopi tanaman besar, sehingga terciptalah tingkatan kehidupan.
Di pedalaman daerah tropis terdapat beberapa padang/gurun pasir yang kondisinya berbeda jauh dengan lingkungan hutan tropis. Ciri-ciri daerah padang/gurun pasir adalah :
·         Perubahan suhunya sangat besar,  padasiang hari suhu bisa mencapai 50 derajat Celciusi, sebaliknya pada malam hari suhu dapat mencapai 0 derajat Celcius.
·         Curah hujan sangat rendah, sekitar 25 cm per tahun.
·         Kelembaban udara sangat rendah, sedangkan penguapan ai (evaporasi sangat tinggi, sehingga mengakibatkan tanah nya menjadi tandus.
2.      Daerah Subtropis.
Daerah subtropis terletak di daerah antara 23,5 derajat - 66,5 derajat Lintang Utara (LU) dan 23,5 derajat - 66,5 derajat Lintang Selatan (LS). Beriklim sedang. Di daerah subtropis mengalami 4 musim, yaitu :
·         Musim panas (summer).
·         Musim gugur (autumn).
·         Musim dingin (winter).
·         Musim semi (spring).
Ø  Bioma daerah subtropis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
·         Curah hujan sepanjang tahun antara 75 - 100 cm per tahun.
·         Memiliki 4 musim.
·         Hutannya merupakan luruh. Gugurnya daun pohonan hutan merupakan persiapan akan datangnya musim dingin, dan bersemi kembali setelah musim dingin selesai.
·         Adanya salju saat musim dingin.
·         Jumlah spesies tumbuhan lebih sedikit dibandingkan daerah tropis, pepohonan tinggi, jarak antar pohon satu dengan yang lain tidak rapat, sehingga tidak ada tanaman perdu di bawahnya.
Di daerah tengah benua terdapat padang rumput, karena curah hujannya sedikit, maka sulit bagi pohon untuk hidup dengan baik.  
3.      Daerah Kutub.
Daerah kutub terletak antara 66,5 derajat - 90 derajat Lintang Utara (LU) dan 66,5 derajat - 90 derajat Lintang Selatan (LS). Pada musim panas, matahari bersinar lebih dari 12 jam sehari, sehingga malam menjadi lebih singkat, sebaliknya pada musim dingin matahari bersinar kurang dari 12 jam, sehingga malam menjadi lebih lama. Bioma yang khas di daerah beriklim dingin adalah hutan taiga yang pohonnya terdiri dari satu jenis spesies (hutan homogen).  Ciri-ciri ekosistem daerah kutub adalah :
·         Perbedaan suhu dalam musim panas dan musim dingin sangat mencolok.
·         Pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas antara 3 - 6 bulan.
·         Pohon khasnya konifer, sedangkan hewan yang hidup di kawasan tiaga adalah moose, beruang hitam, ajak, dan lain-lain.
·         Burung-burung beremigrasi di musim gugur - dingin.
Lebih ke utara di belahan bumi utara terdapat tundra, lokasinya di sekitar kutub sehingga iklimnya disebut juga iklim kutub. Ciri-cirinya adalah :
·         Perbedaan siang dan malam pada musim panas dan musim dingin sangat besar.
·         Dalam musim panas, tumbuh-tumbuhan membuat persediaan makanan untuk satu tahun. Tumbuhan musim berbunga serempak, sehingga padang rumput dipenuhi oleh berbagai jenis hewan.
·         Hewan khasnya adalah rendeer, musk oxen, dan beruang putih. Guna melindungi dirinya, hewan daerah kutub akan merubah bulunya menjadi gelap pada waktu musim panas, dan berwarna putih pada saat musim dingin.
Pembagian Wilayah Berdasarkan Fauna
Berdasarkan perbedaan iklim di dunia, dunia di bagi atas 6 daerah hewan atau fauna regions, yaitu : 
1.      Daerah Oriental
Daerah oriental mencakup daerah Asia Selatan, Asia Tenggara, Indonesia bagian barat, dan sebagian sebelah utara pegunungan Himalaya. Jenis hewan yang ada di daerah oriental di antaranya adalah  gajah, harimau, kerbau, tapir, dan kera. 
2.      Daerah Australia
Daerah Australia mencakup daerah Indonesia bagian timur, Australia serta pulau-pulau sekelilingnya. Jenis hewan yang ada di daerah Australia di antaranya adalah kangguru, kucing, koala, tupai terbang, wombat, dan bandicot. 
3.      Daerah Palaearctic
Daerah palaearctic mencakup daerah Asia Utara dan Eropa. Jenis Hewan yang ada di daerah palaearctic di antaranya adalah reideer, beruang, bison, kambing bertanduk besar, keledai liar, kucing kutub, dan hedgehog. 
4.      Daerah Ethiopian
Daerah ethiopian mencakup benua Afrika. Hewan yang ada di daerah Ethiopian di antaranya adalah singa, gajah, jerapah, kuda nil, dan gorila.
5.      Daerah Neotropical. 
Daerah neotropical mencakup Amerika Selatan. Hewan yang ada di daerah neotropical  di antaranya adalah monyet, binatang pemakan semut, capybara, sloth, dan kinkojou. 
6.      Daerah Neartic
Daerah neartic mencakup Amerika Utara. Hewan yang ada di daerah neartic di antaranya adalah bison, kijang, caribau (sejenis kijang), kucing gunung, dan muskhok.
Adanya kesamaan hewan dari satu wilayah dengan wilayah lain, menunjukkan bahwa pada mulanya dunia merupakan satu wilayah atau Pangaea. Karena adanya pergeseran bumi, benua menjadi terpisah-pisah. 

Faktor Penyebab Ketidakmerataan Hidup Flora dan Fauna
Selain dari pembagian daerah berdasarkan iklim, yaitu daerah tropis, daerah subtropis, dan daerah
kutub, yang menyebabkan ketidak-merataan hidup tumbuhan dan hewan, Junghun membagi daerah iklim berdasarkan ketinggian daerah di atas permukaan air laut, yaitu :
1.      Daerah panas, dengan suhu rata-rata di atas 22 derajat Celcius, mencakup daerah dengan ketinggian dari 0 meter sampai 700 meter di atas permukaan laut. Vegetasi yang dapat tumbuh baik di antaranya adalah kelapa, tebu, padi, dan jagung.
2.      Daerah sedang, dengan suhu antara 15 derajat - 22 derajat Celcius, mencakup daerah dengan ketinggian antara 700 meter - 1.500 meter di atas permukaan air laut. Vegetasi yang tumbuh dengan baik di antaranya adalah teh, karet, kopi, dan sayur syuran.
3.      Daerah sejuk, dengan suhu antara 11 derajat - 15 derajat Celcius, mencakup daerah dengan ketinggian antara 1.500 meter - 2.500 meter di atas permukaan laut. Vegetasi yang tumbuh dengan baik di antaranya adalah pinus, tanaman budi daya (hortikultura), dan kina.
4.      Daerah dingin, dengan suhu di bawah 11 derajat Celcius, mencakup daerah dengan ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan air laut. Vegetasi yang tumbuh baik adalah lumut di daerah yang paling atas, sedangkan di daerah yang bawah, vegetasi yang tumbuhhampir sama dengan daerah iklim sejuk. 
Dari hal-hal tersebut di atas dapat dilihat, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ketidakmerataan hidup tumbuhan dan hewan di bumi adalah :
·         Faktor daerah, menurut iklim terdapat hubungan yang erat antara iklim dengan kehidupan lingkungan hidup tumbuhan dan hewan.
·         Faktor lingkungan, kehidupan dipengaruhi oleh unsur abiotik dan biotik.
·         Faktor sejarah geografi, bumi mengalami perubahan-perubahan karena kekuatan dari dalam (endogen) maupun kekuatan dari luar (eksogen). Berdasarkan kondisi geografis, terutama di Indonesia, Alfred Russel Wallace (1854 - 1862) membuat garis batas untuk membedakan tumbuhan dan hewan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Garis batas tersebut dikenal dengan nama garis Wallace. Garis Wallace membentang dari Selat Lombok, Selat Makasar, dan Laut Sulu yang memisahkan tumbuhan dann hewan  di Indonesia bagian barat sebagai daerah orientalis dengan daerah sebelah timur yang disebut Indo Australia. Sedangkan Max Wilhelm Carl Weber, menggunakan palung Kei sebagai batas pembedaan tumbuhan dan hewan, yang dikenal sebagai garis Weber. Webber mengatakan bahwa hewan yang berasal dari Asia  sama dengan hewan yang ada di Indonesia bagian barat, sedangkan yang dari Australia sama dengan Indonesia bagian timur.
·         Faktor proses penyebaran tumbuhan dan hewan terjadi dengan cara aktif dan pasif. Penyebaran yang aktif, terutama dilakukan oleh hewan, karena hewan dapat berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Sedangkan cara pasif, terutama dilakukan oleh tumbuhan, yang penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kekuatan eksogen, seperti angin, arus air, dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan Pembagian Wilayah Untuk Penyebaran Fauna
Untuk tugas kali ini, mengenai kehidupan di bumi, saya akan membahas tentang geografi kehidupan: pembagian wilayah untuk penyebaran binatang. Seperti yang kita ketahui, berbagai macam binatang banyak tersebar di mana saja, baik di Indonesia maupun di belahan dunia. Akan tetapi, ternyata penyebarannya itu terbagi menjadi beberapa wilayah lagi. Penyebaran wilayah ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor. Setelah ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai pembagian wilayah untuk penyebaran binatang.
Pada umumnya, hewan tersebar secara terbatas pada daerah tertentu karena adanya berbagai penghalang atau karena sejarah tempat asalnya pada zaman dahulu. Biasanya, yang menjadi penghalang dan pemisah persebaran hewan adalah faktor-faktor fisik yang berhubungan dengan keadaan bumi seperti laut, sungai, gunung, padang pasir dan iklim. Wilayah persebaran hewan sendiri ditentukan oleh kondisi zaman dahulu dan hubungannya dengan masa sekarang antara benua yang satu dengan benua lainnya. Wilayah persebaran hewan pertama kali diperkenalkan oleh Sclater (1858), selanjutnya dikembangkan oleh Huxley (1868) dan oleh Wallace (1876). Menurut Wallace, persebaran di dunia dapat dikelompokkan menjadi enam wilayah, yaitu Neartik, Neotropik, Australis, Oriental, Paleartik dan Etiopian.
Pembagian wilayah berdasarkan iklim yaitu:daerah tropis,daerah subtropics dan daerah kutub.Adapula factor penyebab ketidakmerataan hidup flora dan fauna yaiu:daerah panas,daerah sedang,daerah sejuk dan daerah dingin.

REFERENSI