Sabtu, 02 April 2016

Seksualitas dan Aseksualitas

MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR
(Seksualitas dan Aseksualitas)
          


NAMA                 : ARLINDA PUTRI SUNARTA
KELAS                : 1PA03
NPM                    : 11515033

FAKULTAS         : PSIKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Penulis membuat makalah ini agar pembaca dapat mengetahi bahwa perbedaan seksual dan aseksual.Penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar.Makalah kali ini akan membahas tentang pengertian,factor dan contoh seksual dan aseksual.
Seksual adalah pelilaku seks yang kawin dan Aseksual adalah perilaku yang tidak kawin.Adapun tahap-tahap perkembangan seksual yaitu biologis,psikologis,dan social budaya.Penulis akan menjelaskan secara detail tentang perkembangan seksual dan aseksual.
1.2     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Perkembanga Seksual?
2.      Apa pengertian Perkembangan Aseksual?
3.      Apa contoh Perkermbangan Seksual?
4.      Apa contoh Perkembangan Aseksual?
1.3     Tujuan Penulisan
1.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui pengertian dari perkembangan seksual dan perkembangan aseksual.
2.      Penulis dan pembaca dapat mengetahui contoh perilaku perkembangan seksual dan aseksual.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Seksualitas

·         Merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut.
·         Seksualitas meliputi bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunuksikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan seperti: sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus  seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.
·         Raharjo (1999) menjelaskan bahwa seksualitas merupakan suatu konsep, kontruksi sosial terhadap nilai, orientasi, dan perilaku yang berkaitan dengan seks.
·         kesehatan seksual  menurut WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.
Tinjauan seksual dari beberapa aspek
1.      Aspek biologis
Pandangan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi, kemampuan organ seks dan adanya hormonal serta sistem syaraf yang berfungsi atau berhubungan dgn kebutuhan seksual.
2.      Aspek psikologis
Pandangan terhadap identitas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya serta memandang gambaran seksual.
3.      Aspek sosial budaya
Merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di masyarakat.
Tahapan Perkembangan Seksualitas
Ø  MASA PRANATAL DAN BAYI
Komponen fisik/biologis : sudah berkembang, Mampu merespon rangsang, misal : ereksi, pelumas vagina (saat mandi merasakan adanya perasaan senang) Terfokus pada pembelajaran normal dan membentuk rasa diri
Komponen psikososial :
a.       Bayi fokus kebutuhan rasa aman, nyaman, kesenangan, nutrisi.
b.      Berkembang rasa percaya.
c.       Respon terhadap interaksi figur orang tua.
d.      Mulai belajar jenis kelamin.
Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud) :
1.      Tahap oral (0-1 tahun)
·         Kepuasan dicapai dengan menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara.
·         Misal : menetek, menghisap jari
·         Masalah : menyapih dan makan
2.      Tahap anal  (1-3 tahun)
·         Kepuasan terjadi saat pengeluaran feses
·         kadang-kadang mencoba memasukan kembali atau menahan feses, sering menjadikan feses sebagai mainan.Dapat dilatih kebersihan.
Ø  MASA KANAK-KANAK
·         Dibagi dalam masa todler, prasekolah dan sekolah.
·         Biologis: struktur anatomi dan fisiologi terus berkembang.
·         Psikososial : mulai mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.
·         Belajar perasaan diri melalui interaksi dengan figur orang tua.
1.      Tahap oedipal/phalik (3-5 tahun)
·         Kepuasan anak terletak pada rangsang otoerotis : meraba, nikmat pada beberapa daerah.
·         Mengidentifikasi jenis kelamin.
·         berperan sesuai jenis kelamin.
·         Menyukai lain jenis (laki-laki dekat dengan ibu, perempuan dekat dengan ayah)Pada anak laki-laki dekat dengan ibu, bangga terhadap penisnya.Pada anak perempuan dekat dengan ayah karena ayah suka mengagumi kecantikannya dan senang bermain dengannya.
2.      Tahap laten (5-12 tahun)
·         Suka berinteraksi dgn kelompok/sebaya.
·         Dorongan libido mereda.
·         Banyak bertanya masalah seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca atau berfantasi.
·         Mulai memasuki masa pubertas.
Ø  MASA PUBERTAS
·         Biologis: terjadi kematangan fisik (pubertas) dan kematangan psikososial (remaja)
·         Perubahan fisik :
Laki-laki : TB, BB, perkembangan otot, bulu, ukuran penis.
Perempuan : TB, BB, bentuk tubuh, ukuran payudara, menstruasi.
·         Psikososial : perubahan body image, perhatian besar pada perubahan fungsi tubuh, belajar perilaku pada kondisi sosial baru, konflik emosi (mudah tersinggung, malu, ingin dimengerti)
ü  Tahap genital  ( > 12 tahun)
Berespon terhadap sensasi menyenangkan / permainan erotis (fantasi, masturbasi)
Ø  MASA DEWASA MUDA DAN PERTENGAHAN UMUR
·         Biologis (18-30 tahun)
kematangan anatomi dan fisiologi, BB, TB dan kondisi tubuh.
Perkembangan ciri seks sekunder mencapai puncak
Pertengahan umur : terjadi perubahan hormon.
Wanita: penurunan estrogen, pengecilan payudara, cairan vagina berkurang.
Pria : menurunnya reaksi ereksi, penurunan ukuran penis, penurunan produksi semen.
·         Psikososial: Intim dnegan lawan jenis, menikah, melahirkan, punya anak menyebabkan terjadinya perubahan peran Interaksi seksual : kominikasi terbuka tentang seks dengan partner, pengetahuan yg baik tentang diri dan kemampuannya serta tentang partnernya.
Ø  MASA DEWASA TUA
·         Biologis :
Perempuan : atropi vagina, jaringan payudara, cairan vagina menurun,
intensitas orgasme menurun.
Laki-laki : menurunnya produksi sperma, intensitas orgasme menurun, terlambat mencapai ereksi, pembesaran kelenjar prostat.
·         Psikososial :
Masalah yg mempengaruhi perkembangan seksualitas:
a.       penyesuaian terhadap perubahan body image.
b.      penyesuaian terhadap perubahan dlm keluarga, status perkawinan, pensiun, perubahan fungsi tubuh, menurunnya mobilitas.Bila pada masa dewasa tua dan lansia seseorang tidak mampu berespon positif terhadap perubahan maka orang tersebut dapat merasakan penurunan harga diri (HDR) dan kemudian menyebabkan isolasi sosial.
Reprosuksi Seksual
·         Mula-mula Hifa berbeda jenis saling berdekatan.
·         Hifa betina akan membentuk Askogonium dan hifa jantan akan membentuk Anteridium, masing-masing berinti haploid.
·         Dari askogonium akan tumbuh Trikogin yaitu saluran yang menghubungkan askogonium dan anteridium.
·         Melalui trikogin anteridium pindah dan masuk ke askogonium sehingga terjadi plasmogami.
·         Askogonium tumbuh membentuk sejumlah hifa askogonium yang dikarion. Pertumbuhan terjadi karena pembelahan mitosis antara inti-inti tetapi tetap berpasangan.
·         Pada ascomycota yang memiliki badan buah, kumpulan hifa askogonium yang dikariotik ini membentuk jalinan kompak yang disebut Askokarp. Ujung-ujung hifa pada askokarp membentuk askus dengan inti haploid dikariotik.
·         Di dalam askus terjadi kariogami menghasilkan inti diploid.
Di dalam askus terdapat 8 buah spora. Spora terbentuk di dalam askus sehingga disebut sporaaskus. Spora askus dapat tersebar oleh angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai, spora askus akan tumbuh menjadi benang hifa yang baru.
Catatan: Di dalam askus terdapat 8 buah spora karena 2 inti diploid melakukan pembelahan meiosis menghasilkan 4 inti haploid. Setiap haploidakan membelah secara mitosis sehingga setiap askus terdiri dari 8 buah spora.
Contoh Perkembangan Seksual Pada Fauna
1.      Aves
Fertilisasi internal dengan kloaka. Semua jenis burung bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar). Ada burung yang mengerami telurnya, ada yang menyimpannya dalam lubang-lubang yang ditutupi daun, ada pula yang menyimpan telurnya didalam pasir. Seekor burung sekali musim hanya mampu bertelur beberapa butir saja. Pada burung merpati, sekali musim bertelur mengeluarkan 2 butir telur yang akan menetas menghasilkan burung jantan dan betina. Embrio yang berkembang dalam cangkang mendapat makanan dari cadangan makanan yang tersimpan dalam telur tersebut.
2.      Amfibi
Seperti pada ikan, katak juga bertelur dengan fertilisasi eksternal. Telur yang telah dibuahi akan bergerombol dipermukaan air. Setelah enam hari telur akan menetas menghasilkan berudu atau kecebong. Berudu hidup di dalam air dan bernafas dengan insang. Setelah mengalami metamorfosis selama 1- 3 bulan, ia akan berubah bentuk menjadi katak. Pada umur satu tahun katak telah menjadi dewasa.

B. Aseksualitas

Perkembangbiakan Aseksual

     Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Perkembangbiakan secara aseksual pada hewan invertebrata terjadi dengan cara:
1.      Membelah diri (pembelahan biner), yaitu pembelahan diri dari satu sel menjadi dua sel baru. Misalnya, terjadi pada Protozoa.
2.      Fragmentasi, yaitu pemisahan sebagian sel dari suatu koloni dan selanjutnya membentuk koloni sel baru. Misalnya, terjadi pada Volvox.
3.      Sporulasi atau pembentukan spora, misalnya Plasmodium (penyebab malaria) pada fase oosit. Oosit akan membelah dan selanjutnya akan menghasilkan sporozoit.
4.      Pembentuhan tunas, misalnya pada hewan Hydra dan Porifera.
5.      Dengan regenerasi, yaitu sebagian tubuh terpisah dan selanjutnya bagian tadi dapat tumbuh menjadi individu baru yang lengkap. Misalnya pada Planaria dan Bintang Laut.
Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.
Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme yang lebih sederhana, biasanya satu sel, melakukan reproduksi secara aseksual.
Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual adalah proses reproduksi dimana keturunan timbul dari orangtua tunggal, dan mewarisi gen dari satu orang tua. Aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan meiosis, ploidi pengurangan, atau fertilisasi. Sebuah definisi yang lebih ketat adalah agamogenesis yang adalah reproduksi tanpa fusi gamet. Reproduksi aseksual adalah bentuk reproduksi organisme bersel tunggal seperti archaea, bakteri, dan protista. Banyak tanaman dan jamur bereproduksi secara aseksual juga.
Sementara semua prokariota bereproduksi secara aseksual (tanpa pembentukan dan fusi gamet), mekanisme transfer gen lateral yang seperti konjugasi, transformasi, dan transduksi kadang-kadang disamakan dengan reproduksi seksual. Kurang lengkapnya reproduksi seksual relatif jarang terjadi di antara organisme multiseluler, terutama hewan.
Hal ini tidak sepenuhnya mengerti mengapa kemampuan untuk bereproduksi secara seksual begitu umum di antara mereka. Hipotesis saat ini menunjukkan bahwa reproduksi aseksual mungkin memiliki manfaat jangka pendek ketika pertumbuhan penduduk yang cepat adalah penting atau dalam lingkungan yang stabil, sedangkan reproduksi seksual menawarkan keuntungan bersih dengan generasi yang lebih cepat memungkinkan keragaman genetik, memungkinkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Kendala perkembangan mungkin mendasari mengapa beberapa hewan telah melepaskan reproduksi seksual sepenuhnya dalam siklus hidup mereka.
Reproduksi aseksual misalnya Membelah diri, Tunas (Reproduksi), Reproduksi vegetatif, Fragmentasi, Sporogenesis, Partenogenesis, dan Apomiksis.
contoh reproduksi pada tanaman Sarcoscypha coccinea
Sarcoscypha coccinea,Dilakukan dengan membentuk kuncup. Kuncup terbentuk pada sel induk yang kemudian lepas. kadang-kadang kuncup tetap melekat pada induk selnya membentuk rantai sel yang disebut hifasemu atau pseudohifa.
Hasil Analisis
          Seksualitas merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang saling menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut.Adapula tinjauan seksualitas dalam beberapa aspek yaitu: Aspek biologis,Aspek psikologis dan Aspek social budaya.Tahapan perkembangan seksualitas yaitu:
a.       Masa Pranatal : Tahap oral dan Tahap anal
b.      Masa Kanak-Kanak : Tahap phallic dan Tahap laten
c.       Masa Pubertas : Tahap genital
d.      Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur
e.       Masa Dewasa Tua
Contoh reproduksi pada seksual adalah aves dan amphibi.
     Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu.Adapula contoh perkembangan aseksual yaitu hewan invertebrata,yaitu dengan cara : Membelah diri,Fragmentasi,Sporulasi (pembentukan spora),Pembentukan tunas dan Regenerasi.
REFERENSI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar