MATEMATIKA
DAN ILMU ALAMIAH DASAR
(Seksualitas dan Aseksualitas)
NAMA : ARLINDA PUTRI SUNARTA
KELAS : 1PA03
NPM : 11515033
FAKULTAS : PSIKOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Penulis
membuat makalah ini agar pembaca dapat mengetahi bahwa perbedaan seksual dan
aseksual.Penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen mata
kuliah Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar.Makalah kali ini akan membahas tentang
pengertian,factor dan contoh seksual dan aseksual.
Seksual
adalah pelilaku seks yang kawin dan Aseksual adalah perilaku yang tidak
kawin.Adapun tahap-tahap perkembangan seksual yaitu biologis,psikologis,dan
social budaya.Penulis akan menjelaskan secara detail tentang perkembangan
seksual dan aseksual.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian Perkembanga Seksual?
2. Apa
pengertian Perkembangan Aseksual?
3. Apa
contoh Perkermbangan Seksual?
4. Apa
contoh Perkembangan Aseksual?
1.3
Tujuan
Penulisan
1. Penulis
dan pembaca dapat mengetahui pengertian dari perkembangan seksual dan
perkembangan aseksual.
2. Penulis
dan pembaca dapat mengetahui contoh perilaku perkembangan seksual dan aseksual.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Seksualitas
·
Merupakan
kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang
saling menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah
hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut.
·
Seksualitas
meliputi bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunuksikan
perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan seperti: sentuhan,
ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus seperti
isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.
·
Raharjo
(1999) menjelaskan bahwa seksualitas merupakan suatu konsep, kontruksi sosial
terhadap nilai, orientasi, dan perilaku yang berkaitan dengan seks.
·
kesehatan
seksual menurut WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik,
emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan
kepribadian, komunikasi, dan cinta”.
Tinjauan seksual dari beberapa aspek
1.
Aspek biologis
Pandangan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi, kemampuan organ seks
dan adanya hormonal serta sistem syaraf yang berfungsi atau berhubungan dgn
kebutuhan seksual.
2.
Aspek psikologis
Pandangan terhadap identitas jenis kelamin, sebuah perasaan dari diri
sendiri terhadap kesadaran identitasnya serta memandang gambaran seksual.
3.
Aspek sosial budaya
Merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat
terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di masyarakat.
Tahapan Perkembangan Seksualitas
Ø MASA
PRANATAL DAN BAYI
Komponen fisik/biologis : sudah berkembang, Mampu merespon rangsang,
misal : ereksi, pelumas vagina (saat mandi merasakan adanya perasaan senang)
Terfokus pada pembelajaran normal dan membentuk rasa diri
Komponen psikososial :
a.
Bayi
fokus kebutuhan rasa aman, nyaman, kesenangan, nutrisi.
b.
Berkembang
rasa percaya.
c.
Respon
terhadap interaksi figur orang tua.
d.
Mulai
belajar jenis kelamin.
Perkembangan
Psikoseksual (Sigmund Freud) :
1.
Tahap oral (0-1 tahun)
·
Kepuasan
dicapai dengan menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara.
·
Misal
: menetek, menghisap jari
·
Masalah
: menyapih dan makan
2.
Tahap anal (1-3 tahun)
·
Kepuasan
terjadi saat pengeluaran feses
·
kadang-kadang
mencoba memasukan kembali atau menahan feses, sering menjadikan feses sebagai
mainan.Dapat dilatih kebersihan.
Ø MASA KANAK-KANAK
·
Dibagi
dalam masa todler, prasekolah dan sekolah.
·
Biologis:
struktur anatomi dan fisiologi terus berkembang.
·
Psikososial
: mulai mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.
·
Belajar
perasaan diri melalui interaksi dengan figur orang tua.
1.
Tahap oedipal/phalik (3-5 tahun)
·
Kepuasan
anak terletak pada rangsang otoerotis : meraba, nikmat pada beberapa daerah.
·
Mengidentifikasi
jenis kelamin.
·
berperan
sesuai jenis kelamin.
·
Menyukai
lain jenis (laki-laki dekat dengan ibu, perempuan dekat dengan ayah)Pada anak
laki-laki dekat dengan ibu, bangga terhadap penisnya.Pada anak perempuan dekat
dengan ayah karena ayah suka mengagumi kecantikannya dan senang bermain
dengannya.
2.
Tahap laten (5-12 tahun)
·
Suka
berinteraksi dgn kelompok/sebaya.
·
Dorongan
libido mereda.
·
Banyak
bertanya masalah seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca atau
berfantasi.
·
Mulai
memasuki masa pubertas.
Ø MASA
PUBERTAS
·
Biologis:
terjadi kematangan fisik (pubertas) dan kematangan psikososial (remaja)
·
Perubahan
fisik :
Laki-laki : TB, BB, perkembangan otot,
bulu, ukuran penis.
Perempuan : TB, BB, bentuk tubuh, ukuran payudara, menstruasi.
Perempuan : TB, BB, bentuk tubuh, ukuran payudara, menstruasi.
·
Psikososial
: perubahan body image, perhatian besar pada perubahan fungsi tubuh, belajar
perilaku pada kondisi sosial baru, konflik emosi (mudah tersinggung, malu,
ingin dimengerti)
ü Tahap genital ( > 12 tahun)
Berespon terhadap sensasi menyenangkan
/ permainan erotis (fantasi, masturbasi)
Ø MASA
DEWASA MUDA DAN PERTENGAHAN UMUR
·
Biologis
(18-30 tahun)
kematangan anatomi dan fisiologi, BB,
TB dan kondisi tubuh.
Perkembangan ciri seks sekunder mencapai puncak
Pertengahan umur : terjadi perubahan hormon.
Perkembangan ciri seks sekunder mencapai puncak
Pertengahan umur : terjadi perubahan hormon.
Wanita: penurunan estrogen, pengecilan
payudara, cairan vagina berkurang.
Pria : menurunnya reaksi ereksi, penurunan ukuran penis, penurunan produksi semen.
Pria : menurunnya reaksi ereksi, penurunan ukuran penis, penurunan produksi semen.
·
Psikososial:
Intim dnegan lawan jenis, menikah, melahirkan, punya anak menyebabkan
terjadinya perubahan peran Interaksi seksual : kominikasi terbuka tentang seks
dengan partner, pengetahuan yg baik tentang diri dan kemampuannya serta tentang
partnernya.
Ø MASA
DEWASA TUA
·
Biologis
:
Perempuan : atropi vagina, jaringan
payudara, cairan vagina menurun,
intensitas orgasme menurun.
Laki-laki : menurunnya produksi
sperma, intensitas orgasme menurun, terlambat mencapai ereksi, pembesaran
kelenjar prostat.
·
Psikososial
:
Masalah yg mempengaruhi perkembangan
seksualitas:
a. penyesuaian terhadap perubahan body
image.
b. penyesuaian terhadap perubahan dlm
keluarga, status perkawinan, pensiun, perubahan fungsi tubuh, menurunnya
mobilitas.Bila pada masa dewasa tua dan lansia seseorang tidak mampu berespon
positif terhadap perubahan maka orang tersebut dapat merasakan penurunan harga
diri (HDR) dan kemudian menyebabkan isolasi sosial.
Reprosuksi Seksual
·
Mula-mula
Hifa berbeda jenis saling berdekatan.
·
Hifa
betina akan membentuk Askogonium dan hifa jantan akan membentuk Anteridium,
masing-masing berinti haploid.
·
Dari
askogonium akan tumbuh Trikogin yaitu saluran yang menghubungkan askogonium dan
anteridium.
·
Melalui
trikogin anteridium pindah dan masuk ke askogonium sehingga terjadi plasmogami.
·
Askogonium
tumbuh membentuk sejumlah hifa askogonium yang dikarion. Pertumbuhan terjadi
karena pembelahan mitosis antara inti-inti tetapi tetap berpasangan.
·
Pada
ascomycota yang memiliki badan buah, kumpulan hifa askogonium yang dikariotik
ini membentuk jalinan kompak yang disebut Askokarp. Ujung-ujung hifa pada
askokarp membentuk askus dengan inti haploid dikariotik.
·
Di
dalam askus terjadi kariogami menghasilkan inti diploid.
Di
dalam askus terdapat 8 buah spora. Spora terbentuk di dalam askus sehingga
disebut sporaaskus. Spora askus dapat tersebar oleh angin. Jika jatuh di tempat
yang sesuai, spora askus akan tumbuh menjadi benang hifa yang baru.
Catatan: Di dalam askus terdapat 8
buah spora karena 2 inti diploid melakukan pembelahan meiosis menghasilkan 4
inti haploid. Setiap haploidakan membelah secara mitosis sehingga setiap askus
terdiri dari 8 buah spora.
Contoh Perkembangan Seksual Pada Fauna
1. Aves
Fertilisasi
internal dengan kloaka. Semua jenis burung bereproduksi dengan cara bertelur
(ovipar). Ada burung yang mengerami telurnya, ada yang menyimpannya dalam
lubang-lubang yang ditutupi daun, ada pula yang menyimpan telurnya didalam
pasir. Seekor burung sekali musim hanya mampu bertelur beberapa butir saja.
Pada burung merpati, sekali musim bertelur mengeluarkan 2 butir telur yang akan
menetas menghasilkan burung jantan dan betina. Embrio yang berkembang dalam
cangkang mendapat makanan dari cadangan makanan yang tersimpan dalam telur
tersebut.
2. Amfibi
Seperti
pada ikan, katak juga bertelur dengan fertilisasi eksternal. Telur yang telah
dibuahi akan bergerombol dipermukaan air. Setelah enam hari telur akan menetas
menghasilkan berudu atau kecebong. Berudu hidup di dalam air dan bernafas
dengan insang. Setelah mengalami metamorfosis selama 1- 3 bulan, ia akan
berubah bentuk menjadi katak. Pada umur satu tahun katak telah menjadi dewasa.
B. Aseksualitas
Perkembangbiakan Aseksual
Dalam
reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa
keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri
menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian,
reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan
tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Perkembangbiakan secara aseksual pada
hewan invertebrata terjadi dengan cara:
1. Membelah diri (pembelahan biner),
yaitu pembelahan diri dari satu sel menjadi dua sel baru. Misalnya, terjadi
pada Protozoa.
2. Fragmentasi, yaitu pemisahan sebagian
sel dari suatu koloni dan selanjutnya membentuk koloni sel baru. Misalnya,
terjadi pada Volvox.
3. Sporulasi atau pembentukan spora,
misalnya Plasmodium (penyebab malaria) pada fase oosit. Oosit akan membelah dan
selanjutnya akan menghasilkan sporozoit.
4. Pembentuhan tunas, misalnya pada hewan
Hydra dan Porifera.
5. Dengan regenerasi, yaitu sebagian
tubuh terpisah dan selanjutnya bagian tadi dapat tumbuh menjadi individu baru
yang lengkap. Misalnya pada Planaria dan Bintang Laut.
Reproduksi
adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi.
Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua
bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses
reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua
jenis: seksual dan aseksual.
Dalam
reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa
keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri
menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian,
reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan
tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.
Reproduksi
seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang
berbeda. Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual.
Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual,
sedangkan organisme yang lebih sederhana, biasanya satu sel, melakukan
reproduksi secara aseksual.
Reproduksi Aseksual
Reproduksi
aseksual adalah proses reproduksi dimana keturunan timbul dari orangtua
tunggal, dan mewarisi gen dari satu orang tua. Aseksual adalah reproduksi yang
tidak melibatkan meiosis, ploidi pengurangan, atau fertilisasi. Sebuah definisi
yang lebih ketat adalah agamogenesis yang adalah reproduksi tanpa fusi gamet.
Reproduksi aseksual adalah bentuk reproduksi organisme bersel tunggal seperti
archaea, bakteri, dan protista. Banyak tanaman dan jamur bereproduksi secara
aseksual juga.
Sementara
semua prokariota bereproduksi secara aseksual (tanpa pembentukan dan fusi
gamet), mekanisme transfer gen lateral yang seperti konjugasi, transformasi,
dan transduksi kadang-kadang disamakan dengan reproduksi seksual. Kurang
lengkapnya reproduksi seksual relatif jarang terjadi di antara organisme
multiseluler, terutama hewan.
Hal ini
tidak sepenuhnya mengerti mengapa kemampuan untuk bereproduksi secara seksual
begitu umum di antara mereka. Hipotesis saat ini menunjukkan bahwa reproduksi
aseksual mungkin memiliki manfaat jangka pendek ketika pertumbuhan penduduk
yang cepat adalah penting atau dalam lingkungan yang stabil, sedangkan
reproduksi seksual menawarkan keuntungan bersih dengan generasi yang lebih
cepat memungkinkan keragaman genetik, memungkinkan adaptasi terhadap perubahan
lingkungan. Kendala perkembangan mungkin mendasari mengapa beberapa hewan telah
melepaskan reproduksi seksual sepenuhnya dalam siklus hidup mereka.
Reproduksi
aseksual misalnya Membelah diri, Tunas (Reproduksi), Reproduksi vegetatif,
Fragmentasi, Sporogenesis, Partenogenesis, dan Apomiksis.
contoh reproduksi pada tanaman
Sarcoscypha coccinea
Sarcoscypha coccinea,Dilakukan dengan
membentuk kuncup. Kuncup terbentuk pada sel induk yang kemudian lepas.
kadang-kadang kuncup tetap melekat pada induk selnya membentuk rantai sel yang
disebut hifasemu atau pseudohifa.
Hasil Analisis
Seksualitas merupakan kebutuhan dasar
manusia berupa ekspresi perasaan 2 individu secara pribadi yang saling
menghargai, memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan
timbal balik antara kedua individu tersebut.Adapula tinjauan seksualitas dalam
beberapa aspek yaitu: Aspek biologis,Aspek psikologis dan Aspek social budaya.Tahapan
perkembangan seksualitas yaitu:
a. Masa Pranatal : Tahap oral dan Tahap
anal
b. Masa Kanak-Kanak : Tahap phallic dan
Tahap laten
c. Masa Pubertas : Tahap genital
d. Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur
e. Masa Dewasa Tua
Contoh reproduksi pada seksual adalah
aves dan amphibi.
Dalam
reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa
keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri
menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian,
reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu.Adapula contoh
perkembangan aseksual yaitu hewan invertebrata,yaitu dengan cara : Membelah
diri,Fragmentasi,Sporulasi (pembentukan spora),Pembentukan tunas dan
Regenerasi.
REFERENSI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar